Selasa, 22 Desember 2009

KONFERENSI KASUS

KONFERENSI KASUS

a. Definisi Konferensi Kasus

Konferensi kasus adalah suatu kelompok kecil orang-orang yang secara bersama-sama mensitesa, dan menginterpretasikan fakta yang telah diketahui mengenai seseorang (Strang, 1949). Konferensi kasus merupakan merupakan media yang digunakan untuk mencari solusi bagi konseli dengan cara berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan masalah konseli. Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam Bimbingan dan Konseling untuk membahas permasalahan siswa (konseli) dalam suatu pertemuan, yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa (konseli). Melalui konferensi kasus, proses penyelesaian masalah siswa (konseli) tidak hanya mengandalkan pada konselor sekolah semata, tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif, yaitu dengan melibatkan berbagai pihak yang dianggap kompeten. Pihak-pihak tersebut seperti Kepala Sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, orangtua, dan konselor-konselor sekolah.

Konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Terbatas dan tertutup maksudnya adalah dalam pertemuan ini, hanya pihak-pihak yang berpengaruh saja yang diundang untuk ikut serta.

b. Tujuan Konferensi Kasus

Konferensi kasus memiliki beberapa tujuan. Secara umum, tujuan diadakannya konferensi kasus adalah mencari interpretasi dan solusi-solusi yang bisa digunakan untuk membantu konseli secara bersama-sama dengan orang-orang yang berpengaruh dengan konseli. Secara khusus, konferensi kasus bertujuan untuk mendapatkan :

  1. inti masalah yang dialami oleh konseli.
  2. latar belakang terjadinya masalah tersebut.
  3. langkah-langkah yang bisa diambil untuk membantu konseli dalam memecahkan masalah konseli.
  4. teknik-teknik yang akan digunakan untuk membantu konseli (oleh konselor)

c. Manfaat Konferensi Kasus

Manfaat dari diadakannya konferensi kasus adalah sebagai berikut :

  1. menambah informasi tentang konseli.
  2. menemukan solusi dari masalah konseli.
  3. menafsirkan data studi kasus dalam suatu program bimbingan yang konstruktif untuk konseli.

d. Langkah-langkah Konferensi Kasus

Berikut ini merupakan langkah-langkah yang dilakukan dalam konferensi kasus :

  1. Pemimpin konferensi membuka pertemuan. Pada pembukaan, pemimpin konferensi menjelaskan tujuan dari pertemuan tersebut, identitas kasus yang akan diangkat, dan penjelasan bahwa semua yang dibicarakan harus dirahasiakan.
  2. Pimpinan konferensi (konselor) menyampaikan data-data yang telah terkumpul untuk melakukan diagnosa awal terhadap konseli.
  3. Pemimpin memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapat atau informasi tambahan mengenai konseli, terutama mengenai riwayat pendidikan, prestasi belajar, keadaan keluarga, bakat, minat, hobi, kesehatan, dan lain-lain.
  4. Pembuatan kesimpulan dilakukan seteah semua pihak yang diundang memberikan pendapat dan informasi. Kesimpulan yang dibuat dan dikemukakan berupa segi-segi positif diri konseli dan latar belakang timbulnya masalah.
  5. Pimpinan mempersilahkan peserta untuk mengemukakan pendapat tentang latar belakang timbulnya masalah yang dialami konseli.
  6. Pimpinan membuat kesimpulan berupa hal yang mungkin menjadi latar belakang masalah tersebut.
  7. Pemimpin meminta masukan dari para peserta yang hadir tentang hal-hal yang dapat mereka lakukan dalam membantu konseli.
  8. Mengambil langkah alternatif yang akan diambil. Siapa yang melakukan, apa yang dilakukan, kapan, dimana, dan jika perlu ditentukan pula tekniknya.

SATUAN KEGIATAN PENDUKUNG

KONFERENSI KASUS

A. Strategi Layanan : Layanan Responsif

B. Bidang Bimbingan : Sosial

C. Jenis kegiatan : Konferensi kasus

D. Fungsi kegiatan : Pengentasan masalah

E. Tujuan kegiatan/Hasil yang ingin dicapai :

Mengentaskan masalah agar klien mendapatkan penanganan yang tepat.

F. Subyek yang menjadi masalah : Siswa kelas XI IPA IV (inisial DR)

G. Gambaran ringkas masalah :

- DR benci dengan laki-laki

- DR pernah melempari teman laki-lakinya dengan batu sampai kepala temannya berdarah

- DR melakukan kekerasan dengan teman-teman laki-lakinya, contohnya, memukul, menampar, menendang, dan tinda kekerasan lainnya
Gejala-gejala tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman DR yaitu DR seringkali melihat ibunya dipukuli oleh ayahnya. Pengalaman ini DR alami selama kurang lebih 2 tahun. Selain pengalaman DR tersebut, ibu DR juga membatasi pergaulan DR. DR tidak diizinkan berteman dengan orang-orang sekitar rumahnya karena ibu DR berpikir bahwa orang-orang di sekitar rumahnya adalah orang-orang yang membuat ibu DR disiksa oleh ayah DR dan DR tidak diizinkan pula boleh terlalu dekat dengan siapapun.

H. Tempat penyelenggaraan kegiatan : Ruang Audio-visual

I. Waktu : Kamis, 24 Desember 2009

J. Penyelenggara kejadian : Guru Pembimbing / Konselor

K. Pihak-pihak yang disertakan : Konselor sekolah sebagai penyelenggara kegiatan, wali kelas, guru mata pelajaran, orangtua siswa, dan kakak siswa

L. Bahan dan Keterangan yang dibawa dalam pertemuan :
• Data Konseling
• Laporan siswa mengenai tindak kekerasannya

M. Penggunaan hasil konferensi kasus :
Sebagai bahan untuk mempertimbangkan langkah-langkah pengentasan masalah konseli

N. Rencana penilaian dan tindak lanjut kegiatan :
• Banyaknya kegiatan dan mutu informasi yang diperoleh
• Intensitas progam pengentasan masalah
• Keterbukaan masing-masing peserta konferensi

O. Catatan Khusus :
• Konferensi kasus ini sudah dibicarakan dan disetujui oleh siswa dan orang tuanya
• Hasil layanan dimasukkan dalam himpunan data

SKENARIO KONFERENSI KASUS

Kepala Sekolah : Sugeng Hidayat,M.Pd

Konselor : Nur Risnawaty,S.Pd

Wali kelas : Ratna Astuti,S.Pd

Orangtua (inisial) : NA

Kakak : Hendra

Konselor :

Assalamualaikum wr.wb. saudara-saudara sekalian, terima kasih atas kehadirannya memenuhi undangan kami. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang lebih tepat tentang kasus-kasus khusus di sekolah kita. Pertemuan ini membahas kesulitan-kesulitan atau kegagalan yang dialami siswa/i di sekolah kita. Saya yakin kesulitan dan kegagalan yang dialami mereka ada penyebabnya. Konferensi ini mencoba menemukan cara-cara pemecahan kesulitan tersebut.

Fokus pembahasan kita kali ini adalah seorang siswa kelas XI IPA 4 yang mengalami kesulitan dalam penerimaan dirinya terhadap laki-laki, sehingga mempengaruhi hubungan sosial siswi baik di sekolah maupun di rumah. Siswi tersebut bernama DR (inisial), wali kelas bernama ibu Ratna.

Data-data yang saya peroleh dari wawancara kepada orangtua DR dan teman DR, serta observasi yang dilakukan kepada DR. Berdasarkan wawancara dengan orangtua diperoleh hasil :

¢ DR tidak mempunyai teman dekat di rumah.

¢ Menurut ibunya, DR lebih sering berada di rumah. Sepulang sekolah, DR tidak pernah bermain dengan teman-teman dekat rumahnya.

¢ DR tertutup dibandingkan dengan kakak laki-lakinya. Ia tidak pernah cerita jika ada masalah dengan teman-teman sekolahnya.

¢ Dulu, ketika umur 10 tahun sampai umur 12 tahun, DR sering melihat ibunya dipukul,dan ditampar oleh ayahnya. Ketika umur 13 tahun, DR berkata pada ibunya bahwa DR membenci ayahnya dan laki-laki. Namun, DR menurut ibunya, DR tidak membenci kakaknya walaupun kakaknya seorang laki-laki, karena DR suka bercerita-cerita pada kakaknya

¢ Hubungan keluarga DR dengan saudara-saudara dan tetangga-tetangganya tidak harmonis. Ibu DR tidak suka jika DR bergaul terlalu dekat dengan tetangga-tetangga dan saudaranya, karena menurut ibunya saudara-saudara dan tetangga-tetangganya pernah menyakiti ibu DR dengan memfitnah, bahwa pertengkaran yang dulu pernah terjadi antara ibu dengan ayah DR, karena ibunya tidak bisa mengurus suami dan anak-anaknya dengan baik sehingga ibunya membatasi DR bergaul dengan tetangga dan saudaranya, dan lebih suka menghabiskan waktu bertiga saja dengan anak-anaknya, dibandingkan bersosialisasi dengan tetangga dan saudaranya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan teman DR diperoleh hasil :

¢ DR merupakan teman yang pendiam, dia tertutup dengan teman-temannya. DR tidak pernah bercerita dengan sesama temannya, sesekali hanya berbicara yang penting-penting saja. Setiap jam istirahat atau pulang sekolah, tidak bersama teman-temannya.

¢ Hubungan DR dengan teman-teman perempuan baik-baik saja, tetapi jika dengan teman-teman lelaki, DR sangat kasar. Jika digoda atau didekati dengan teman lelakinya, DR marah-marah atau lebih-lebih pernah memukul, menendang, dan menampar dengan kayu. Maka dari itu, DR disebut “cewek preman” oleh teman-teman lelakinya.

¢ DR tidak mempunyai teman dekat.

¢ DR jarang sekali bergaul di kelas.

Berdasarkan observasi yang saya lakukan kepada DR diperoleh hasil :

Saat jam pelajaran berlangsung, DR tidak terlihat mengemukakan pendapatnya pada guru atau bertanya. Saat jam pelajaran usai, DR juga tidak terlihat berinteraksi dengan teman-temannya. DR berbicara ketika ada seorang temannya yang terlebuh dulu mengajak bicara pada DR. Ia sering terlihat banyak diam dibanding teman-temannya yang lain. Ketika jam istirahat, DR terlihat duduk sendiri di kelas sambil membaca buku. Terlihat ada teman-temannya yang mengajak ke kantin, tetapi DR tidak mau.

Terlihat pula ada teman laki-lakinya yang mengajak bersama-sama ke kantin, tetapi DR menjawab ketus, tidak mau dan menatap sinis pada teman lelakinya tersebut.

Baiklah, adakah diantara saudara yang ingin menyampaikan pendapat?

Wali Kelas :

Menurut pengamatan saya terhadap DR, DR sangat pendiam dan jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Sejauh ini DR tidak pernah menceritakan permasalahannya. Dilihat dari segi akademis prestasi DR tergolong baik. Menurut saya DR tidak mempunyai masalah yang cukup serius, namun saya pernah mendapat laporan dari teman sekelas DR bahwa DR pernah melakukan kekerasan seperti memukul dan menendang.

Konselor :

Terima kasih ibu Ratna. Saya persilahkan ibu NA untuk memberikan informasi tentang penilaian DR dirumah.

Orangtua :

Sejauh pengamatan saya terhadap DR dirumah memang DR tidak terlalu akrab dengan teman-temannya dirumah. DR lebih terbuka terhadap kakak laki-lakinya. Saya kurang setuju apabila DR mempunyai hubungan yang terlalu dekat dengan teman-temannya. Saya kurang menyukai tetangga dan saudara-saudara saya karena ketika suami saya masih hidup dan sering pertengakaran, saudara dan tetangga saya membicarakan hal-hal yang negatif tentang keluarga kami. Hal tersebut membuat saya, tidak mengingkan anak-anak terlalu dekat dengan saudara dan tetangga. Hanya itu saja yang dapat saya sampaikan.

Konselor :

Terima kasih Ibu NA atas informasi yang telah diberikan kepada kami. Silahkan kepada saudara Hendra (kakak DR) untuk memberikan informasi tentang DR.

Kakak DR :

Saya memang dekat dengan DR, DR sering bercerita tentang permasalahannya disekolah, seperti bertengkar dengan anak laki-laki. DR mengungkapkan alasan ia bertengkar dengan teman laki-lakinya karena DR membenci laki-laki yang disebabkan perlakuan ayahnya kepada ibunya. Ia menganggap laki-laki mempunyai sifat yang sama seperti ayahnya. Adik saya takut jika ia bernasib sama dengan ibunya.

Konselor :

Informasi mengenai DR sudah terhimpun. DR mengalami trauma pada masa kecil, karena kekerasan ayahnya terhadap ibunya. Saat ini DR mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman-teman laki-lakinya.

Dalam hal prestasi akademis, DR tidak mempunyai masalah. Hal ini menjadi sisi positif dari DR. Jadi, dilihat dari masalah yang dialami oleh DR, apakah menurut saudara akan berdampak lebih buruk jika permasalahan ini terus berlanjut?

Wali kelas :

Menurut saya, masalah ini akan berdampak lebih buruk jika tidak ditangani secepatnya.

Orangtua :

iya, saya juga sependapat dengan ibu Ratna. Saya menyadari bahwa telah membatasi interaksi anak saya dengan lingkungannya. Saya tidak mengira akan berdampak seperti ini.

Kakak DR :

Saya juga ingin masalah adik saya terselesaikan.

Konselor :

Memang masalah DR harus diatasi secepatnya. Sekarang, apa yang bisa kita lakukan terhadap DR agar masalah yang dihadapinya segera teratasi?

Konselor :

Saya akan melakukan konseling secara berkelanjutan dan memantau perkembangan perilaku DR di sekolah. Saya juga membutuhkan kerjasama dari orangtua untuk memantau perkembangan DR di rumah.

Wali kelas :

Saya akan berusaha lebih dekat dengan DR, agar lebih mudah melakukan pemantauan kepada DR dan memberi informasi pada guru pembimbing.

Orangtua :

Tentunya saya sebagai orangtua akan ikut berpartisipasi dengan cara memberikan kebebasan dalam berteman dan berinteraksi dengan lingkungan. Saya juga akan memantau perkembangan DR di rumah dan bekerjasama dengan guru pembimbing. Selain itu, saya akan membimbing DR agar tidak lagi melakukan tindakan kekerasan seperti yang telah disampaikan.

Kakak DR (Hendra) :

Saya akan memberikan masukan kepada DR untuk mengurangi tindak kekerasan terhadap teman-teman laki-lakinya.

Konselor :

Terima kasih saudara-saudara dalam pertemuan ini diperoleh perencanaan untuk mengatasi permasalahan yang dialami DR. Bantuan yang diberikan diharapkan dapat menyadarkan DR terhadap pemikirannya mengenai laki-laki, dan mengurangi tindakan kekerasannya. Saya juga berharap kerjasama dari berbagai pihak untuk membantu permasalahan DR.

Demikian pertemuan kita kali ini sekali lagi terima kasih atas saran saudara-saudara.

Daftar Pustaka

Nursalim, Mochamad, Suradi. 2002. Layanan Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unesa university press.

Ketut Dewa, Desak, Kusmawati, Nila. 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta:Rineka Cipta.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar